Loading...

Minggu, 02 Januari 2011

Sejarah Masuknya Islam di Makassar


Legenda yang turun-temurun diceritakan menyebutkan bahwa pada zaman dahulu ada seorang ulama yang telah membawa masuk ajaran Islam ke Sulawesi Selatan. Namanya Abdul Khatib Tunggal atau dikenal sebagai Datuk ri Bandang. Ia berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Ulama ini merupakan murid dari seorang wali di Jawa Timur, Sunan Giri.
Datuk ri Bandang tiba di pantai Makassar, di pelabuhan Tallo pada tahun 1605 dengan menumpang sebuah perahu ajaib. Setibanya di pantai, ia melakukan shalat yang membuat heran penduduk setempat yang melihatnya. Mendengar kabar tersebut, Raja Tallo Karaeng Matoaya pun berkeinginan di pagi hari buta itu ke pantai untuk menyaksikan Datuk ri Bandang mengerjakan shalat subuh. Saat baginda ingin ke pantai, di depan gerbang halaman istana, ia bertemu seorang laki-laki bersorban hijau dan berjubah putih. Orang itu menjabat tangan sang raja, setelah itu menuliskan di atas telapak tangan baginda Kalimat Syahadat.
“Perlihatkan telapak tangan baginda kepada orang pendatang yang disangka orang ajaib itu!” ucap orang yang bersorban hijau dan berjubah putih itu kepada Raja Tallo lalu menghilang.
Sang raja pun bergegas ke pantai tempat pendatang itu menambatkan perahunya. Setibanya di pantai, ia memperlihatkan tangannya kepada Datuk ri Bandang sesuai pesan orang berjubah putih itu. Setelah membaca apa yang tersurat di atas telapak tangan baginda, maka bertanyalah Datuk ri Bandang kepadanya.
“Tahukah baginda siapa gerangan yang menulis di atas telapak tangan baginda?”
“Tidak”, jawab baginda
“Baginda sudah menerima Islam langsung dari Rasulullah Muhammad SAW, karena yang menemui baginda dan menulis di atas telapak tangan baginda, niscaya adalah Nabi Muhammad SAW, yang telah menjelmakan diri di negeri baginda,” lanjut Datuk ri Bandang.
Orang-orang Makassar, lalu mengatakan peristiwa itu, Makkasaraki Nabbiya (artinya: Nabi menampakkan/menjelmakan diri). Demikianlah maka Raja Tallo dianggap telah memeluk Islam sebelum diajari oleh Datok ri Bandang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar